Bahasa Indonesia & Golongan Bahasa, part 2

Bahasa Indonesia & Golongan Bahasa, part 2
Artikel lanjutan dari: Kedudukan Bahasa Indonesia & Golongan Bahasa di Dunia.
Menyelidiki kesamaan & perbedaan bahasa-bahasa dan menentukan golongannya menjadi tugas ilmu perbandingan bahasa yang timbul diabad ke-19. dan telah mencapai hasil yang penting, terlebih di bahasa indogerman. Pada bahasa-bahasa Austronesia perbandingan itu masih berada ditingkat permulaannya karena jumlah bahasa yang sebesar itu, kebanyakannya belum diselidiki secara ilmiah.

Orang yang pertama menunjukan hubungan bahasa-bahasa Polinesia dengan beberapa bahasa di indonesia ialah Wilhelm von Humboldt didalam bukunya: Ueber die Kawisprache auf der Insel Java, nebst einer Einleitung uber die Verschiedenheit des Menschlichen Sprachbaues und ihren Einfluss auf die geistige Entwickelung des Menschengeschlechts, Berlin 1836-1839, 4 Bd. Dari dialah asalnya sebutan: bahasa-bahasa Melayu-Polinesia, untuk membatasi daerah bahasa itu diantara golongan yang dianggapnya paling sebelah barat dengan yang sebelah timur sekali. Tetapi batas-batas yang ditarik itu ternyata terlalu sempit adanya. Mula-mula H.C. von der Gabelenz memasukkan bahasa-bahasa Formosa kedalamnya: Ueber di formosanische Sprachen und ihre Stellung im malaiischen Sprachstamm. 1854. Tidak lama kemudian terbitlah karangannya: Die Melanesischen  Sprachen nach ihrem grammatischen Bau und ihrer Verwandtschaft unter sich und mit den Malaiisch-Polynesischen Sprachen untersucht. Leipzig 1860.
Dr. H.N. van der Tuuk memperluas daerah bahasa itu hingga ke madagaskar: Outlines of a grammar of the Malagasy language, 1865. Pemeriksaan selanjutnya dalam karangan ini telah dilakukan oleh: R.H. Codrington, The Melanesian languages, Oxford 1885; H. Kern , De Fidjitaal in haar verband met de Indonesische talen, 1886; W.Schmidt. Ueber das Verhaltniss der melanesichen Sprachen zu den polynesischen und untereinander, Wien 1899.

Dengan demikian dasar kekeluargaan bahasa-bahasa Austronesia telah terhampar dan daerahnya ditetapkan dengan lengkap, istilah "bahasa-bahasa Melayu-Polinesia" tidak dapat dipertahankan lagi.
Orang yang pertama menempatkan perbandingan bahasa-bahasa Austronesia itu pada dasar ilmiah ialah dr.H.N. van der Tuuk dipertengahan abad ke-19. Hukum bunyi R-G-H dan R-D-L adalah ciptaannya dan disebut menurut namanya: hukum bunyi van der Tuuk yang pertama dan yang kedua. Ciptaannya itu dirangkumkan dan diperluas oleh J.L.A. Brandes dalam disertasinya: "Bijdrage tot de vergelijkende klankleer der Westersche afdeeling van de Maleisch-Polynesische Taalfamilie", Leiden 1884.

Contoh hukum bunyi:
R-G-H: Mel. urat = Bis. ogat = Bulu ohat = Dj. k. wwad
       Mel. ratus= Bis. gatos= Bulu hatus= Dj. k. atus
R-D-L: Mel. dua  = Bulu rua  = Dj.kuno rwa  = Samoa lua
       Mel. daun =Dj.k. rwan = Fidji rau  = Samoa lua

Adapula Prof H. Kern yang tidak sedikit berjasa dalam bahasa-bahasa Austronesia itu. Disamping itu beliau pernah mencoba mencari tanah asal bangsa-bangsa Austronesia berdasarkan perbandingan bahasa itu. Dengan mengumpulkan sebanyak-banyaknya kata yang setara dalam segala bahasa-bahasa Austronesia yang dapat diselidiki, rupanya kita mendapat pandangan kepada kebudayaan bangsa leluhur itu ketika bahasa-bahasa itu belum bercerai-berai. kata bilangan serta nama-nama benda seperti rumah, bara api, para-para, kayuh, jarum, anggota badan, dan berbagai nama binatang dan nama tumbuh-tumbuhan, peristiwa alam, barang tambang seperti kapur, besi dsb, ternyata sesuai dalam bahasa-bahasa itu.

Walaupun demikian, bahan-bahan penyelidikan itu sekarang ini terlalu samar untuk menyimpulkan yang tepat padanya.. Tanah leluhur yang entah dimana letaknya di Asia-Tenggara hanya merupakan suatu hipotesis saja.
terlebih dari itu ketidaksesuaiannya dengan hasil pemeriksaan W. Schmidt tentang bahasa bangsa-bangsa Mon-Khmer di Kamboja. Dalam bukunya "Die Mon-Khmer Volker ein Bindeglied zwischen Volkern Zentralasiens und Austronesiens" Braunschweig 1906, dikemukakan pendapatnya, bahwa ada suatu pertalian antara keluarga bahasa yang dinamainya "Bahasa-bahasa Austro-Asia" yang melingkupi bahasa-bahasa Mon-Khmer itu dengan keluarga bahasa-bahasa Austronesia kepihak yang sebelah.
More...

Kedudukan Bahasa Indonesia & Golongan Bahasa di Dunia

Kedudukan Bahasa Indonesia & Golongan Bahasa di Dunia
Bahasa-bahasa terus menerus berubah, bahasa yang ada sekarang, terbentuk dari bahasa yang dulu, yang pada gilirannya merupakan keturunan dari bahasa yang lebih tua lagi..dst.
Diantara bahasa-bahasa sedunia ini terdapat berbagai golongan bahasa yang memperlihatkan titik kesamaan jelas yang satu terhadap yang lain. Tak bisa tidak bahasa yang agak kesamaan itu harus berkerabat, yaitu terjadi dari satu "induk bahasa" yang sama, setidaknya dari satu "nenek bahasa" atau "nenek moyang bahasa" yang sama. Dengan kiasan itu kita memakai istilah "keluarga bahasa" dan bahasa golongan yang agak kesamaan gejalanya disebut "bahasa sekeluarga".

Berdasarkan gejala-gejala kesamaan itu bahasa-bahasa sedunia telah digolongkan atas berbagai "keluarga", yang secara singkat disebut dibawah ini:
Ketiga bahasa ini termasuk golongan keluarga Bahasa Austria:
  1. Bahasa Austronesia
  2. Bahasa Austro-Asia
  3. Bahasa Tibeto-Tionghoa
 Keempat bahasa ini termasuk golongan keluarga Bahasa Nostrat:
  1. Bahasa Indogerman
  2. Bahasa Hamito-Semit
  3. Bahasa Ural-Altai
  4. Bahasa Jaftetit
Berikut ini bahasa-bahasa yang tidak  berkerabat satu sama lain, jadi tidak dapat dirangkum dalam satu golongan keluarga yang lebih luas; hanya disebut menurut ilmu bumi: Bahasa Africa selatan dan tengah:
  1. Bahasa Choisan
  2. Bahasa Bantu
  3. Bahasa Sudan
Demikian juga halnya dengan golongan-golongan lain yang masih terdapat didunia ini:
Golongan terpencil di Asia dan Australia:
  1. Bahasa Hyperborea atau Palaeo-Asia
  2. Bahasa Drawida
  3. Bahasa Andaman
  4. Bahasa Halmaheira-Tidore
  5. Berbagai bahasa Papua yang tidak sekeluarga
  6. Berbagai keluarga bahasa di Australia
Bahasa-bahasa dibenua Amerika:
Lebih dari 1000 bahasa yang terpencil, yang penggolongannya sangat sulit. Untuk sementara di Amerika-Utara ada 26 keluarga bahasa, di Amerika-Tengah 20 keluarga bahasa dan di Amerika-Selatan 77 keluarga bahasa.

Bahasa Austronesia-lah yang terpenting untuk kita, karena bahasa Indonesia termasuk keluarga itu. Bahasa-bahasa itu meliputi kebanyakan kepulauan dari Madagaskar sampai Pulau Paas. Sebenarnya tidak ada alasan untuk membagi keluarga itu atas beberapa kelompok bahasa lagi. Hanya karena daerah itu maha luas maka diadakan pembagian menurut ilmu bumi:
Sebelah timur disebut: bahasa-bahasa Lautan Teduh atau Oceania.
Sebelah barat disebut: bahasa-bahasa Nusantara.
Batasnya bersamaan dengan batas antara Asia dengan Australia, jadi diantara Irian dan kepulauan Aru, Kai dan Seram Laut lalu terus ke utara.
Bahasa-bahasa Lautan Teduh dibagi menurut ilmu bumi atas bahasa Polynesia, Melanesia dan Mikronesia.

Bahasa-bahasa Nusantara juga dibagi menurut ilmu bumi:
  1. Bahasa Formosa
  2. Pilipina
  3. Sub-Pilipina
  4. Sulawesi dan sekitarnya
  5. Ambon dan sekitarnya
  6. Nusa Tenggara
  7. Pulau Jawa dan sekitarnya
  8. Kalimantan
  9. Sumatera, Semenanjung dan sekitarnya
  10. Madagaskar
Jumlah bahasa Austronesia kira-kira 400 buah; di Indonesia saja terdapat 200 bahasa.
Sangat penting untuk diketahui kesamaan bahasa-bahasa itu yang membedakannya dari keluarga bahasa lain.
  1. Kata-kata banyak kesamaan, yaitu hanya berbeda menurut hukum bunyi tertentu.
  2. Kata-kata umumnya terdiri dari dua morfim akar (suku pada kata dasar).
  3. Pembentukan kata dengan morfim imbuhan menurut sistim yang bersamaan.
  4. Kata dasar tidak berubah, kecuali pengaruh bunyi sengau pada huruf pertama.
  5. Tatakata yang menyatakan arti pertalian kata-kata (aneksi).
  6. Perbedaan antara kita dan kami.
  7. Tidak ada jender (jenis kelamin-kata).
Penyelidikan kesamaan dan perbedaan bahasa yang menentukan kekeluargaannya menjadi tugas ilmu  perbandingan bahasa yang muncul diabad ke-19 dan telah mencapai hasil yang penting, terlebih dilapangan bahasa-bahasa Indogerman. Pada bahasa-bahasa Austronesia perbandingan itu masih berada ditingkat permulaanya karena jumlah bahasa sebesar itu dan kebanyakannya belum diselidiki secara ilmiah.

Bersambung ke Bahasa Indonesia & Golongan Bahasa, part 2.
More...

Sumpah Berbangsa Indonesia dan Berbahasa Indonesia, part 3

Sumpah Berbangsa Indonesia dan Berbahasa Indonesia
Artikel lanjutan dari Sejarah Bahasa Indonesia, part 2.
Sumpah Pemuda, begitulah slogan yang kita kenal saat ini, sekali diucapkan lambat-laun menjadi semakin kuatlah cita-cita ini yang menghidupkan semangat putra-putri Indonesia yang semakin lama semakin berkobar-kobar. Betapa besar kegembiraan ketika mengadakan pengumuman tentang suatu kongres bahasa:
"Kongres Bahasa! Beberapa bulan lagi, maka tibalah saat yang besar itu. Setelah membangun-merobohkan, membentuk-menegakkan barulah rupanya belukar-kesukaran akhirnya dapat terombak, alangan-arungan dapat terhindarkan. Rindu-cemas kita menanti, waswas-gelisah mengharap hasil yang dapat memuaskan kita. Demikian Indonesia Nasional menunggu Kongres Bahasa Persatuan Kita!" (P. B. Agustus 1938).
 Didalam pergerakan politik kerapkali kita lihat bahwa orang terkemuka yang telah mengusahakan kemajuan bahasa itu jugalah yang memegang kepemimpinan. Dan walaupun sejak bertahun-tahun sudah menjadi soal pertikaian bagaimana corak bahasa Indonesia ini harus semestinya, dapatlah diduga bahwa pada akhirnya bahasa Melayu modernlah yang akan terpilih untuk bahasa persatuan.

Pengangkatan ini berlangsung pada kongres di Solo tahun 1938 yang diharapkan dengan sedemikian besar kegembiraan. Alasannya adalah pantas sekali: "Sebenarnya memang sejak dahulu kalapun di Tanah Air kita ini telah ada suatu bahasa yang dipakai sebagai alat perhubungan antara golongan-golonganbangsa kita. Dengan berpedoman pada bahasa Melayu-Riau, maka bahasa tersebut itu dalam setiap daerah atau negri mempunyai corak/logatnya sendiri-sendiri"

Tetapi, jika seandainya tidak ada perkembangan dan pembaharuan oleh persurat-kabaran dan Balai Pustaka yang telah disampaikan diatas, tentu tidaklah dapat digunakan bahasa Melayu-Riau ini. Maka sekarang bahasa Melayu Balai Pustaka ini dengan tidak mendapat perubahan atau pembatasan dan dengan ejaan Latin Van Ophuysen, telah diterima secara definitif sebahai bahasa Indonesia, dalam arti: suatu bahasa persatuan untuk seluruh penduduk Indonesia yang beraneka budaya. Dengan ini berakhirlah perlawanan dan keragu-raguan yang bertahun-tahun, sehingga segala tenaga dipergunakan untuk mempelajari bahasa ini. Pada saat itulah sebenarnya lahir Bahasa Indonesia saat ini.

Dalam pada itu mestinya kita memikirkan bahwa betapapun semuanya ini menimbulkan pergolakan, segala masalah dan persoalan dalam lapangan ilmu bahasa dan kebangsaan, waktu sebelum perang hanya menarik perhatian segolongan kecil orang saja. Khalayak ramai ditengah-tengah bangsa atau suku-suku bangsa Indonesia belumlah sampai kesitu kajiannya. Rakyat jelata hidup didalam lingkungan kaum atau sukunya atau perhubungan desanya, sehingga bagi mereka sebetulnya tidak perlu dunia luar, jadi tidak ada hasrat untuk berbicara dengan dunia luar itu dengan salah-satu bahasa persatuan. Sedangkan pada beberapa pemuda yang terkemukapun, misalnya murid-murid A. M. S. Gubernemen di Jogja, sebelum perang, amatlah kecil minat untuk pelajaran bahasa Melayu.

Selama pendudukan Jepang maka sangat dilarang untuk pemakaian bahasa Belanda pada pengajaran dan tata negara. Hal ini tentu membawa kesulitan yang tidak adapat dielakkan. Tidak ada suatu departemen pengajaran yang mempunyai rasa tanggung jawab akan berani menghubungkan semuanya sekaligus dengan sebuah bahasa pengantar baru, dengan tidak tersedia golongan pengajar yang telah terdidik, alat-alat pengajaran dan rencana pengajaran yang sepatutnya.
Meskipun bagi orang yang tahu akan sifat pemerintahan dan cita-cita Jepang waktu itu, tidak ada kebimbangan sedikitpun bahwa akhirnya dinegri ini hanya akan berkuasa bahasa Jepang seperti yang terjadi di Korea dan Formosa, tetapi dalam waktu awal, selama dikalangan bangsa Indonesia belu,m banyak orang yang pandai bahasa Jepang, pihak Jepang terpaksa memakai bahasa Indonesia dalam perhubungannya dengan bangsa Indonesia, baik dalam pemerintahan dan pergaulan sehari-hari maupun dalam propaganda dan pengajaran.
"Malah pihak Jepang maju selangkah lagi: mereka mengadakan tindakan untuk menyempurnakan bahasa Indonesia itu, bukan saja sebagai propaganda, tetapi tak kurang juga oleh karena mereka merasa bahwa meskipun hanya untuk sementara bahasa Indonesia yang tidak tetap kata-katanya, kurang pasti aturannya, akan menyusahkan pemerintahan mereka juga. Dari sudut inilah kita harus melihat dan menilai tindakan Kantor Pengajaran Balatentara Jepang pada tanggal 20 Oktober 1942 mendirikan Komisi (penyempurnaan) Bahasa Indonesia atas desakan dari beberapa pihak bangsa Indonesia" demikian S. T. Alisyahbana dalam pendahuluan buku Kamus Istilah hal 4.

Bersambung ke Pemuda Pemudi Indonesia Bersumpah, part 4
More...

Sejarah Awal Terbentuknya Bahasa Indonesia, part 3

Sejarah Bahasa Indonesia
Artikel lanjutan dari Sejarah Bahasa Indonesia, part 2.
Sejarah Johor pada saat iru kurang bagus, karena tidak berlangsung perniagaan dengan luar negri, tidak mungkin mereka mengumpulkan kekayaan dan merebut kekuasaan. Setelah sekian lama zaman pemulihan Johor yang digunakan juga untuk memperluas pengaruhnya atas kepulauan Riau-Lingga dan sampai ke Sumatra, munculah perselisihan dengan Aceh. Akibatnya adalah hancurnya Johor di tahun 1615. Meskipun turunan seorang sultan masih dapat pulang kembali ke Johor, kekuasaan politiknya telah berakhir untuk selama-lamanya. Kebudayaan dan kesusasteraan pun telah hilang-lenyap.

Nasib semacam itulah yang biasanya kita saksikan bagi semua tempat kedudukan Melayu yang tua. Dimana-mana  dialek-dialek dapat mencapai kemajuan dan secara perlahan bahasa Melayu mulai tersingkrkan, seperti kejadian di Aceh, oleh pemakaian bahasa daerahnya.

Pada tahun 1641 Malaka dirampas oleh orang Belanda dari orang Portugis. Hal ini berearti berdirinya kekuasaan Belanda atas Seluruh Nusantara, dengan mengeluarkan bangsa Portugis, Spanyol dan Inggris. Meskipun ini untuk kesatuan dan kemajuan nasional dalam seluruh Indonesia dikemudian harinya, sangat penting artinya, tidaklah hal itu memeiliki pengaruh atas kehancuran negara-negara Melayu. Tetapi mestilah kita perhatikan soal pemakaian bahasa Melayu sebagai bahasa resmi pertamakalinya oleh Kompeni dan kemudian oleh Gubernemen Hindia-Belanda yang dulu, di dalam segala urusan, perbuatan, perjanjian dan surat-menyurat dengan raja-raja dan para pimpinan rakyat.

Demikianlah bahasa Melayu itu mempertahankan sifat yang internasional dan bertambah kuat kedudukannya yang istimewa. Oleh karena itulah diletakan batu dasar untuk sebuah bahasa pergaulan yang umum yang digunakan di seluruh Indonesia. Tetapi dengan itu semua maka berakhirlah riwayat bahasa Melayu untuk sementara waktu sebagai kendaraan kebudayaan, sehingga menjadi sebuah bahasa yang mati.

Bersambung ke Sejarah Awal Mula Terciptanya Bahasa Indonesia, part 1
More...

Sejarah Bahasa Indonesia, part 2

Sejarah Bahasa Indonesia
Artikel lajutan dari : Bahasa Indonesia Menurut Sejarah.
Orang-orang Tionghoa yang hendak berjiarah diterima di Sriwijaya dengan penuh kehormatan dan raja pun memperkenankan mereka untuk menumpang kapal-kapal baginda untuk belajar ke Hindustan.
Dari suratan pada batu itu ternyata, bahwa bahasa kerajaan Sriwijaya adalah bahasa Melayu-kuno. Dari negara-negara Melayu dan Sriwijaya maka tersebarlah bahasa itu ke seantero jajahan Sriwijaya. Dengan negara-negara tetangga Minangkabau dan Bangka pada mulanya terbentuk suatu kesatuan di Sumatra, kemudian tibalah giliran "pantai-seberang" yaitu Semenanjung Malaka. Tentang pengiriman balatentara ke pulau Jawa telah kita baca di dalam titah yang tersebut di artikel sebelumnya.
Sebagian besar dari tanah Jawa adalah dikuasai oleh raja-raja Syailendra. Juga Kaling, Campa dan Kamboja termasuk ke dalam pengaruhnya. Di pantai-pantai Kalimantan dan pada beberapa tempat yang lain mereka mendirikan perkampungan, bahkan sampai ke Pilipina juga.

Tetapi kerajaan yang besar ini diadakan oleh negri Hindu Tjolamandala tahun 1024, maka menjadi lemah. Jawa Timur mendapat kesempatan akan memperluas daerahnya. Tahun 1275 datanglah balatentara Jawa yang dinamai "Pamalaju" yang dikirim oleh Kertanegara dari Singasari dan dengan inilah dimulainya politik luar negri yang baru: merebut kekuasaan tertinggi untuk Jawa. Sebagai akibat ekspedisi ini pada aliran hulu sungai Batanghari ditemukan sebuah piagam dari tahun 1286. Melayu telah dilepaskan dari Sriwijaya dan dijadikan negara pengikut Jawa. Tetapi sebelum abad itu berakhir, munculah kerajaan-kerajaan Islam: Perlak, Samudra Pasai..dsb.

Sriwijaya tidak kedengaran apa-apa lagi, sebaliknya kekuasaan Jawa-lah yang semakin bertambah sesudah berdirinya Majapahit, apalagi pada zaman perdana mentri Gajah Mada (1331 - 1364).
Pada saat itu Semenanjung diduduki oleh Siam, di Singapura bersemayam seorang gubernur Siam. Kira-kira tahun 1400 seorang pembesar pemberontak dari Jawa Timur, namanya Parameswara mencari perlindungan di Malaka, sebuah sarang bajak laut dan pasar gelap. Dibawah pemerintahan keturunannya, negri itu dapat memerdekakan diri dan mengalami kemajuan yang pesat.

Malaka beralih ke agama Islam dan memasuki gelanggang inetrnasional. Beberapa sebab yang istimewa memajukan lalu-lintas di lautan. Jalan kafilah yang tua sekali dari Tiongkok melalui Samarkand dan Buchara terganggu oleh desakan suku-suku Monggolia. Perniagaan terpaksa mengambil jalan yang baru di lautan melalui Malaka, Gujarat dan Ormuz. Di dalam tempo yang singkat Malaka telah menjadi pusat perniagaan yang besar disebelah Timur. Hasil bumi dari Maluku dan Jawa, beraneka ragam barang dari negri Tiongkok dan daerah yang lain di Asia-Timur, disinilah diperdagangkan.
Disini pula tempat menimbun memuat jenis-jenis barang. Saudagar dari mancanegara berjumpa, orang-orang yang berjumlah sangat banyak itu tinggal dan menetap dilingkungan yang terpisah-pisah yang masing-masing memiliki ketua dan memiliki urusan kehakiman sendiri.

Di dalam zaman ini juga, bahasa dan kesusasteraan Melayu mendapat perkembangan, tetapi sangat dipengaruhi oleh agama. Kaum saudagar yang datang dari Persia, Gujarat dan Pasai-lah yang membawa agama baru itu. Pada gilirannya orang Malaka menyebarkan agama Islam ke mana-mana di sebelah Timur. Di seluruh Sumatra, bahasa Melayu menjadi bahasa pengantar untuk agama Islam. Hasil kesusasteraan mengikuti jejak Persia-Arab. Hubungan dengan kesusasteraan Sriwijaya yang lama, sudah menjadi renggang dan tidak nyata. Apalagi Malaka mempergunakan surat Arab yang diterimanya dari pengaruh kebudayaan yang baru itu.

Perkembangan Malaka sangat luar-biasa cepatnya, tetapi hanya sekejap saja. Sengketa didalam negri membuatnya kacau, sehingga angkatan laut Portugis yang agak kecil dapat menaklukkan kota Malaka pada tahun 1511, dengan bantuan penduduk bangsa Jawa. Sultan Mahmud Syah menyingkir ke Pahang, kemudian ke Bintan. Sesudah kota Bintan dihancurkan juga oleh orang Portugis pada tahum 1526, raja Mahmud melarikan diri ke Kampar sampai meninggal disana. Baginda digantikan oleh putranya yang bergelar Ala'uddin Riajat Syah II. Dia-lah yang mendirikan negara baru di Johor, pada selat yang sempit diantara pulau Singapura dan Semenanjung itu (1530).

Walaupun beberapa kali dilakukan percobaan, namun ia tidak sanggup merebut kembali kota Malaka-nya. Pada saat itu Portugis telah memperkuat kota secara hebat dan tidak merasa segan mengambil batu-batu dari makam raja-raja Malaka untuk memmangun benteng. Adapun perpustakaan istana telah habis terbakar ketika terjadi penyerbuan orang Portugis dan tidak ada lagi sisa-sisa yang tertinggal dari kebudayaan Malaka yang dapat kita selidiki. Tetapi untunglah di Johor muncul suatu pembangunan kesusasteraan yang sangat mengagumkan dan yang menghidupkan kembali kesusasteraan Malaka. Terutama dituliskan buku-buku untuk mengganti perpustakaan yang musnah. Disamping itu terbitlah buku-buku yang berisi karangan baru. Yang termasyur diantaranya adalah: "Sejarah Melayu" yang mengandung kisah serangan Portugis dan jatuhnya kota Malaka serta sejarah Johor, pengarangnya Tun Mahmud bendahara Paduka raja yang terakhir di Johor, menyelesaikan buku tersebut di Lingga kira-kira tahun 1616. Kesusasteraan dari Johor inilah yang disebut kesusasteraan Melayu dan bahasanya ialah bahasa Melayu-Johor.

Bersambung ke Sejarah Awal Terbentuknya Bahasa Indonesia, part 3

More...

Proses Terciptanya Bahasa Indonesia, part 2

Sejarah Proses Terciptanya Bahasa Indonesia
Artikel lanjutan dari - Cara Terbentuknya Bahasa Indonesia, part 1.
Kita telah membentangkan pengaruh persurat-kabaran, sedangkan yang terpenting diantaranya adalah Bintang Timur (Tjaja Timur) yang terbit di Jakarta dan Pewarta Deli di Medan. Tetapi banyak juga surst-surat kabar Melayu-Tionghoa yang terkenal. Kita menyebutkan hal ini bukanlah karena menjadi faktor yang ikut mempengaruhi perkembangan bahasa Indonesia, tetapi oleh karena Melayu-Tionghoa ini, menurut caranya sendiri juga mengalami kemajuan menjadi bahasa jurnalistik, diluar garis-garis yang lebih berdasarkan ilmu pengetahuan yang diturut oleh Balai Pustaka dan diindahkan setidaknya oleh pers Indonesia. Dipandang dari sudut ilmu bahasa, tidaklah diperoleh pimpinan yang berguna dari jurnalistik Tionghoa itu, tetapi diantara para wartawannya banyak juga terdapat orang yang pandai menerangkan keadaan dengan tepat dan menguraikan kenyataan secara menarik hati, meskipun susunan bahasanya tidak sempurna.
Orang-orang Indonesia pun sadar juga akan hal ini, dan Alisjahbana telah menghargainya pula didalam karangannya tentang jurnalistik Melayu-Tionghoa.

Karena itu baik surat-surat kabar maupun Balai Pustaka ada memberi tunjangan guna perkembangan sebuah bahasa yang modern. Tetapi semuanya ini tidak akan sanggup menjelmakan bahasa Indonesia, jika tidak bergandengan tangan dengan rasa persaudaraan nasional dan cita-cita persatuan.

Erat kaitannya hubungan suatu bangsa dengan bahasanya, "Bukan saja karena bahasa itu menurut theorie culturnatie menjadi pengikat manusia-manusia hingga menjadi natie, tetapi karena bahasapun menjadi cermin hidup jiwa suatu bangsa", dan bagi kita bangsa yang menciptakan suatu persatuan, terlebih pula pada arti bahasa itu, karena cita-cita kita untuk menjadikan suatu bahasa, yakni Bahasa Indonesia sebagai tali pengikat seluruh golongan penduduk Tanah-Air kita".
"Ketika hidup politik kebangsaan mulai mendalam, maka terasalah kebutuhan pada satu bahasa". Demikian kutipan dari Pujangga Baru VI, bab 31.

Kehidupan perpolitikan pun mulai berkembang, berbagai himpunan/organisasi telah didirikan, mulai dari :
  • Budi Utomo (pada tahun 1908 oleh Dr. Sutomo dan Dr. Gunawan Mangunkusumo)
  • Partai Hindia (1912), Dr. E. F. E Douwes Dekker, Dr. Tjipto Mangunkusumo dan Ki Hadjar Dewantara
  • Serikat Islam (1913, Hadji Saman Hudi dan Hadji Umar Said Tjokroaminoto)
  • Perhimpunan Indonesia (ditanah Belanda dulu bernama Indische Vereniging 1908, kemudian berganti nama menjadi Indonesische Vereniging 1922).
  • Perserikatan Nasional Indonesia (1927), Dr. Tjipto Mangunkusumo, Ir. Sukarno, dll.
  • Partai Indonesia (1931, Mr. Sartono)
  • Pendidikan Nasional Indonesia (1931, Drs. Hatta, Sutan Sjahrir).
  • Partai Indonesia Raya (1935, Dr. Sutomo, fusi diantara Budi Utomo, Persatuan Bangsa Indonesia, Serikat Selebes, Serikat Sumatra, Serikat Ambon, dll)
  • Gerakan Rakyat Indonesia (1937, Mr. Amir Sjarifuddin, Mr. Muh. Yamin, Dr. A. K. Gani, dll)
Pada tahun1939 terbentuklan front nasional yang merupakan satu federasi beberapa gerakan politik dan sebagian besar dari gerakan sosial dan ekonomi yang disebut dengan Gabungan Politik Indonesia lebih terkenal dengan nama GAPI dengan aksinya "Indonesia berparlemen".
Selain dari itu terdapat lagi gerakan pemuda seperti : Jong Java, Jong Sumatra, Jong Ambon, Jong Batak,..dll, yang kemudian menggabungkan diri menjadi Indonesia Muda. Pada tahun 1928 terjadilah suatu hal yang tak bisa kita lupakan ketika Indonesia mengangkat sumpah bahwa seluruh anggotanya berbangsa satu dan berbahasa satu, yaitu Bangsa Indonesia dan Bahasa Indonesia.

Bersambung ke - Sumpah berbangsa Indonesia dan berbahasa Indonesia, part 3
More...

Kumpulan Puisi online gratis | Sajak | Kata Mutiara | Puisi Terbaru | Puisi Romantis | Syair Puisi | Tata Bahasa | Menulis bait-bait puisi | Melatih kecerdasan | Puisi imajinasi | Blog Khusus Puisi | Sang Pujangga Puisi | Daftar Penulis Puisi | Poetry | Poetic | Poems | Puisi Bebas | Download Puisi Gratis | Free Download Puisi | Pantun | Puisi Modern | Klasik Puisi | Pengucapan Puisi | Membaca Puisi | Menterjemahkan Puisi | Puisi Religi | Puisi Kritik Politik | Puisi Kehidupan | Puisi anak | Puisi dewasa | Puisi cinta dan kasih sayang | Berbagi karya tulis puisi sajak asli dan original | Puisi Verbal | Pengucapan puisi | Inspirasi Puisi | Puisi Remaja | Cara Menulis Puisi | Cara Membaca Syair Puisi yang benar | Penyair Puisi | Seniman | Sastra | Seni | Art | Kritikus | Ilham Puisi | Puisi Persahabatan | Puisi Bermakna Dalam | Arti Puisi | Pemahaman Sajak dan Puisi | Menghayati Lirik Puisi | Kata-Kata Bijak | Sejarah Bahasa Indonesia | Bahasa Sangsekerta | Bahasa Indonesia Modern